Album Perdana Paduan Suara Dialita “Dunia Milik Kita”

Print

Daftar Lagu:
1. Ujian, diaransemen dan dimainkan bersama Frau
2. Salam Harapan, diaransemen dan dimainkan bersama Cholil Mahmud
3. Di Kaki-Kaki Tangkuban Perahu, diaransemen dan dimainkan bersama Sisir Tanah, Frau dan Lintang Radittya
4. Padi Untuk India, diaransemen dan dimainkan bersama Sisir Tanah
5. Taman Bunga Plantungan, diaransemen dan dimainkan bersama Kroncongan Agawe Santosa
6. Viva GANEFO, diaransemen dan dimainkan bersama Sisir Tanah
7. Lagu Untuk Anakku, diaransemen dan dimainkan bersama Cholil Mahmud
8. Kupandang Langit, diaransemen dan dimainkan bersama Frau dan Lintang Radittya
9. Dunia Milik Kita, diaransemen dan dimainkan bersama Cholil Mahmud dan Lintang Radittya
10. Asia Afrika Bersatu, diaransemen dan dimainkan bersama Nadya Hatta, Prihatmoko Catur dan Lintang Radittya

“Dunia Milik Kita” yang merupakan judul album perdana Paduan Suara Dialita akan dirilis secara digital dan dapat diunduh bebas pada hari peringatan kemerdekaan bangsa Indonesia, 17 Agustus 2016. Album ini bertujuan sebagai “silent monument tragedi 1965”, yaitu sebuah monumen yang akan mengingatkan kita untuk menyampaikan kepada publik tentang kebenaran sejarah masa lalu dan mencegah terjadinya peristiwa serupa oleh karena ketidaktahuan sejarah. Semangat kemerdekaan bangsa Indonesia dijadikan sebagai momen tepat untuk mendistribusikan lagu-lagu Dialita yang direkam pada bulan Maret lalu dengan dukungan dari Indonesia Visual Art Archive (IVAA).

Lagu-lagu Dialita diciptakan oleh tahanan politik saat dipenjara dan ada juga yang diciptakan saat sudah bebas di masa rezim Orde Baru. Pada masa Orde Baru situasi politik berada dalam tekanan dan keterbatasan, sehingga para eks-tapol tidak dapat dengan mudah hidup dalam sistem yang seperti itu. Peristiwa-peristiwa politik seperti ini yang dimulai dari penggulingan paksa masa pemerintahan Soekarno pada 1965, pergantian pemerintahan dengan rezim Orde Baru, dan munculnya kekerasan yang menyertai semakin bertumpuk tanpa adanya penyelesaian oleh Negara. Musik sebagai bentuk dari seni budaya popular dipilih untuk menyampaikan peristiwa-peristiwa yang terbatas diceritakan tersebut. Lagu-lagu tersebut dinyanyikan oleh Paduan Suara Dialita yang terdiri dari para penyintas dan keluarganya. Pilihan lagu yang dinyanyikan Dialita adalah lagu-lagu bersejarah. Getaran syair kehidupan dari lagu yang dinyanyikan, berisi pujaan kepada tanah air Indonesia, kerinduan seorang Ibu di dalam kamp pada anak-anak yang mereka tinggalkan, perjuangan hidup dalam kekangan, semangat keragaman dalam perbedaan, solidaritas hingga impian dan harapan akan kehidupan yang harmonis tanpa penindasan.

Dilita bersama musisi muda berkolaborasi menciptakan aransemen ulang lagu-lagu tersebut dan merekamnya untuk didistribusikan secara gratis melalui situs web http://yesnowave.com/. Musisi tersebut antara lain Frau, Sisir Tanah, Cholil Mahmud, Nadya Hatta, Prihatmoko Catur, Kroncongan Agawe Santosa dan Lintang Radittya. Lagu-lagu yang direkam adalah “Asia Afrika Bersatu”, “Dunia Milik Kita”, “Kupandang Langit”, “Lagu Untuk Anakku”, “Padi Untuk India”, “Di Kaki-kaki Tangkuban Perahu”, “Taman Bunga Plantungan”, “Salam Harapan”, “Viva GANEFO”, dan “Ujian”. Aransemen lagu-lagu tersebut dimaksudkan untuk memberikan nuansa baru yang sesuai dengan selera musik generasi muda di masa sekarang, yakni generasi muda yang tidak mengetahui peristiwa kekerasan 1965 yang jumlah-nya semakin bertambah dan juga memberikan perspektif lain atas korban peristiwa tersebut. Album ini dipublikasikan dengan menggunakan lisensi Creative Commons yang memberikan akses terbuka bagi publik untuk menyebarkan, menyalin, menggunakan dan menggubahnya secara bebas sehingga mampu mengembangkan aset karya seni budaya kita ke bentuk-bentuk baru. Album ini juga dibuat dalam bentuk CD bersama dengan booklet bersisi sejarah dibalik terciptanya lagu-lagu tersebut yang akan dirilis mendatang. Desain sampul album didesain oleh Wok The Rock dengan ilustrasi tanaman pangan liar yang digambar oleh Wedhar Riyadi.

Yes No Wave Music adalah sebuah label rekaman non-profit yang mendistribusikan musik
secara unduh bebas melalui jaringan internet dengan tujuan memberikan akses informasi dan karya seni secara terbuka dengan menggunakan lisensi Creative Commons.

Informasi lanjut: kontak Venti Wijayanti +6285 634 224 30, venti.wijayanti@gmail.com

Isyana Sarasvati Luncurkan Hit Single Terbaru “Mimpi”

Gadis cantik multi talenta, Isyana Sarasvati sedang dalam puncak popularitas. Dari ajang Indonesian Choice Awards 2016 yang diselenggarakan oleh NET TV, Isyana meraih dua penghargaan yaitu sebagai “Female Artist of The Year” dan “Album of The Year”untuk album Explore.

Penyanyi yang bercita-cita menjadi maestro musik ini kembali merilis single terbarunya yang berjudul “MIMPI”. Lagu ini adalah single keempat Isyana setelah sebelumnya sukses dengan hit single Keep Being You, yang dirilis pada bulan Oktober 2014, dimana YouTube Vevo mencapai lebih dari 11 juta viewer. Disusul dengan kesuksesan single kedua Tetap Dalam Jiwa yang dirilis pada Maret 2015 dan mencapai lebih dari 42 juta viewer di YouTube Vevo dan menjadi lagu yang paling banyak di putar di radio-radio. Single duet pertamanya Kau Adalah dengan Rayi yang dirilis pada November 2015 juga mendulang sukses dan mencapai lebih dari 13 juta viewer di Youtube Vevo.

“Mimpi adalah salah satu lagu di dalam album Explore yang benar-benar dibuat dengan hati. Karena semua elemennya bener-bener Isyana banget. Dari melodi, lirik, dan aransemennya, semua aku yang memikirkan. Boleh dikata ini adalah masterpiece di album perdanaku,” jelas Isyana.

Mimpi ditulis Isyana pada tahun 2014. Lagu ini merupakan pengalaman pribadi Isyana Sarasvati yang ditumpahkan dalam sebuah lagu. Saat itu Isyana sedang merasakan kesedihan mendalam dan menyalurkannya lewat piano. Dari situ Isyana mulai memainkan melodi, mengalir begitu saja. Baru kemudian dikembangkan menjadi sebuah lagu, dengan menggunakan tema yang berstruktur.

“Komposisi ini aku ciptakan seperti aku membuat sebuah ilustrasi film. Semuanya mengalir. Lagu ini didominasi oleh sentuhan piano dengan latar string, yang memberi warna klasikal, sesuatu yang menjadi ciri musikalitasku,” ungkap Isyana.

Video klip Mimpi dibuat istimewa dengan latar belakang keindahan panorama Lombok dengan pantai dan bukitnya yang menawan. Isyana tampil cantik natural dengan busana etnik dari sejumlah designer Indonesia. Video klip Mimpi diunggah di Vevo pada tanggal 27 Mei 2016 dan langsung disambut antusias oleh para penggemar Isyana. Hingga hari ini (31 Mei 2016), video klip Mimpi sudah diakses lebih dari 184 ribu dan akan terus bertambah.

Lewat lagu Mimpi, Isyana berharap dapat berbagi emosi dengan semua orang yang memiliki pengalaman yang serupa dengannya.

Tentang Isyana Sarasvati

Isyana Sarasvati lahir dan dibesarkan di Kota Bandung pada 2 Mei 1993 dari lingkungan keluarga pendidik. Sempat bermukim di Belgia mengikuti sang ayah yang bersekolah disana, Isyana yang kala itu berusia 3 tahun sudah menunjukkan ketertarikan pada piano. Ibunya yang merupakan guru electone, piano dan vocal mengarahkan bakatnya. Isyana kecil juga terbiasa mendengarkan musik-musik jazz dan klasik kegemaran ayahnya. Sejak di kelas 1 SD sudah mantap mengatakan ingin menjadi maestro, yaitu seorang komposer sekaligus menjadi konduktor orkestra. Gadis multi talenta ini piawai memainkan sejumlah instrumen musik, antara lain piano, electone, flute, dan saxophone. Demikian juga kemampuan vokalnya yang unik, terutama di genre opera dan pop.

Musik menjadi wahana eksplorasi Isyana. Umur 7 tahun dia sudah membuat komposisi lagu. Umur 11 tahun ia membuat proyek album bersama kakaknya, Rara Sekar Larasati dengan judul Rara & Isyana.

Sejumlah prestasi yang telah diraih, antara lain 3 kali Juara Grand Prix Asia Pasific Electone Festival (2005, 2008, 2011); Penampilannya yang cemerlang membawanya terpilih menjadi salah satu dari 15 Composer Electone Dunia, yang tampil di Yamaha Electone Concours (YEC) 2012 di Tokyo, Jepang.

Pada usia 16 tahun Isyana mendapatkan scholarship dari Pemerintah Singapore untuk menempuh pendidikan Music Performance di Nanyang Academy of Fine Arts (NAFA), Singapore, dan pada tahun 2013 telah berhasil meraih Diploma in Music Performance (2013). Dengan prestasi akademiknya, Isyana mendapatkan kembali full scholarship untuk studi lanjutan Bachelor of Music with Honours Funded Degree Programme in collaboration with RCM –London UK.

Isyana lulus dengan predikat Cumlaude (first class) sebagai Bachelor of Music (Honours) dari Royal College of Music (RCM) London, serta memperoleh Best Graduate Award 2015 dari Nanyang Academy of Fine Arts (NAFA) Singapore dan juga Award dari Embassy of Peru.

DISKOGRAFI:

ALBUM Explore! (Album 2015)

SINGLES

– Keep Being You – Oktober 2014

– Paseban Café (Fariz RM & Dian PP in Collaboration With) – 2014

– Tetap Dalam Jiwa – Maret 2015

PENGHARGAAN

Indonesian Choice Award 2016 Female Singer of The Year

Indonesian Choice Award 2016 Album of The Year “Explore”

Anugerah Musik Indonesia 2015 Penyanyi Pendatang Baru Terbaik

Anugerah Musik Indonesia 2015 Best Soul/R&B Male/Female Solo Artist (“Keep Being You”)

Inbox Awards 2015 Most Inbox Newcomer

Insert Awards 2015 The Hottest Newcomer

Showbiz Indonesia Awards 2015 Rising Star of the Year

NOMINASI

Indonesian Choice Awards 2015 Female Singer of the Year

Indonesian Choice Awards 2015 Breakthrough Artist of the Year

Selebrita Awards 2015 Most Celeb Newcomer

Most Inbox 2015 Darling Social Media Artist

Anugerah Planet Muzik 2015 Best New Artist (Female)

Silet Awards 2015 Razored New Idol

Yang ingin tahu lebih banyak tentang Isyana Sarasvati dapat mengikuti:

YouTube Page : IsyanaSarasvati

Twitter : https://twitter.com/isyanasarasvati

Instagram : instagram.com/isyanasarasvati

Untuk informasi lebih lanjut:

Sundari Mardjuki – Senior Marketing & Communication Manager

Email : sundari.mardjuki@sonymusic.com

@ SonyMusicID

Koperasi Digital Indonesia Mandiri

mastel-20160520

Koperasi Digital Indonesia Mandiri

Dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional, MASTEL dan APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) hari ini (20/5) mengadakan Public Expose Koperasi Digital Indonesia Mandiri (Koperasi Digital) dengan tema “Membangun Ekonomi Digital Yang Mandiri dan Berdaulat Melalui Koperasi, di Auditorium lt.2 Gedung Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah RI (Kemenkop UKM). Disamping mendapat dukungan dari Kemenkop UKM, acara ini turut mendapat atensi dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo), Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.

Acara diawali dengan introduction speech dari Hermawan Kartajaya yang merupakan co-founder Koperasi Digital dan sekaligus Staf Khusus Menteri Koperasi dan UKM RI, dilanjutkan dengan sambutan oleh Ketua Umum MASTEL Kristiono. Pada sambutannya Kristiono menjelaskan latar belakang dibentuknya Koperasi Digital. Dimana berawal dari pembicaraan antara MASTEL dan APJII pada saat MASTEL roadshow ke berbagai asosiasi yang menjadi anggota MASTEL. Dalam roadshow tersebut, tercetuslah ajakan mengenai pembentukan koperasi digital dari APJII. Dengan semakin maraknya produk asing yang menguasai industri di Indonesia MASTEL dan APJII sepakat untuk mendorong hadirnya Koperasi Digital sebagai solusi untuk mencapai kebangkitan kedaulatan ekonomi digital Indonesia.

Kristiono menambahkan bahwa pembentukan koperasi ini tidak lepas dari tiga pilar yaitu pasar, talenta, dan entrepreneurship. Untuk pasar Indonesia memiliki potensi yang dapat dijadikan sebuah kekuatan. Sementara untuk talenta Indonesia masih memiliki kekurangan tenaga yang dapat membantu merealisasikannya. Entrepreneurship sendiri saat ini pertumbuhannya di Indonesia sedang berkembang dengan pesat.

Kepala Balitbang SDM Kemkominfo Basuki Yusuf Iskandar dalam sambutannya mewakili Menkominfo menjelaskan bahwa program satu juta domain dari Kemkominfo akan membantu para UKM mendapatkan lebih banyak peluang untuk usaha mereka. Program ini akan diluncurkan secara bersamaan dengan publikasi Koperasi Digital secara nasional pada tanggal 12 Juli 2016.

“Kenapa harus koperasi digital?” tegas Sekretaris Menteri Koperasi dan UKM Agus Muharam. “Karena saat ini Indonesia telah memasuki era informasi namun masih tertinggal. Untuk itu perlu diadakan revolusi mental koperasi, dimana koperasi harus didukung oleh teknologi digital”, lanjutnya. Ia menambahkan, “pengembangan koperasi menggunakan teknologi akan membuat proses kerjanya lebih efektif dan efisien”. Hal ini disampaikan oleh Sekretaris Menteri Koperasi dan UKM Agus Muharam pada sambutannya mewakili Menteri Koperasi dan UKM.

Sebagaimana diketahui, pengguna internet di Indonesia terus bertambah. Indonesia adalah merupakan pangsa pasar yang besar. Sangat disayangkan apabila tidak dimanfaatkan oleh para pelaku usaha lokal. Banyak startup yang berhasil dalam mengembangkan dirinya, sehingga mampu memanfaatkan pengguna internet lokal. Namun, tidak banyak investor lokal yang mau mendukung para startup yang berhasil, sehingga para investor asing memanfaatkan kesempatan itu.

Sumber: MASTEL

Ben Sihombing: Set Me Free

Print

Ben Sihombing: Set Me Free

Sudah hampir sebulan lewat mendengarkan via Spotify Premium single baru dari pendatang baru di musik tanah air ini, Ben Sihombing, dengan single perdananya “Set Me Free”.  Saya menyempatkan untuk sedikit menuliskannya di blog ini.

Tidak banyak komentar yang akan saya berikan, tapi gaya pop ballad minimalis ini sedikit ‘menggugah’ hati saya. Ditambah dengan karakter vokal Ben Sihombing yang memang agak ‘unik’ dan memiliki daya tarik, menurut saya.

Lagu “Set Me Free” meski berbahasa asing, cukup hanya diperdengarkan 2-3 kali langsung bisa nyantol di kepala. Materi yang cukup simpel tapi berbobot. Kalau pihak label rekamannya jeli dan jitu, materi ‘kuat’ ini bisa memiliki peluang untuk diekspansi dan dieskpor ke negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, Thailand bahkan Filipina. Ohhh, kenapa tiba-tiba saya langsung teringat dengan lagu yang lumayan populer 20 tahun lalu ini ya: Nice Stupid Playground – Bedroom Window, hi… hi… hi…

Saya berharap nantinya ada (banyak) lagu Ben Sihombing yang berlirik bahasa (Indonesia). Supaya karakter, positioning dan brand-nya bisa lebih terbangun. Selamat datang Ben Sihombing di musik tanah air, Sabang sampai Merauke siap menyambutmu…

 

Ben Sihombing: Set Me Free (Media Release)

Indonesia kini memiliki penyanyi solo pendatang baru bertalenta tinggi bernama Ben Sihombing. Pemilik nama lengkap Christopher Ben Joshua Sihombing merilis single perdana bertajuk ‘Set Me Free’ yang menceritakan tentang arti sebuah ikatan yang di interpretasikan sebagai pernyataan atas sebuah hubungan kuat di dalam kehidupan manusia yang hanya relatif singkat.

Di single ini Ben menyajikan suatu warna pop folk ballad yang tidak banyak menggunakan instrumen. Hanya gitar yang ia mainkan yang mengiringi suara emas Ben dalam lagu yang bernuansa sendu ini. Single ini nantinya yang akan merepresentasikan bagaimana Ben akan mengambil jalur musik yang akan dimainkan dan ditawarkan kepada pencinta musik Tanah Air.

Dalam single tersebut, Ben yang juga adik kandung dari musisi Petra Sihombing tersebut ingin menciptakan kesan easy on ears dan lights, serta direct statement yang menjadi tujuan dari lagu ini dijadikan single perdana dari Ben Sihombing yang dipersembahkan kepada seluruh pencinta musik tanah air Indonesia demi terciptanya apresiasi personality terhadap musik Indonesia yang lebih signifikan di masa yang akan datang.

Ben, yang juga kerap terlibat dalam pembuatan lagu-lagu sang kakak Petra Sihombing, mengatakan bahwa tema simplicity ia bawa dalam menciptakan lagu-lagu dengan memberikan sentuhan yang bersifat hidup dan natural pada setiap bagian lagu yang dianggap inti dari suasana lagu.

“Gue ingin orang enggak hanya mendengarkan lagunya doang tapi juga ingin mereka merasakan perasaan gue saat itu yang coba disampaikan lewat lagu,” ujar Ben tentang single-nya tersebut.

Info: E-Motion Entertainment

Lima Seniman Jogja Beraksi Di Indonesian Day Pada Zushi Beach Film Festival Jepang

Flyer-Indonesian-Day-di-Zushi-Beach-Film-Festival-2016-896x1024

Indonesian Day @ The Zushi Beach Film Festival (ZBFF)

Musim panas di Tokyo bisa menjadi hal yang sangat mengganggu. Hal tersebut yang membuat para penghuni kota metropolitan Jepang ini mencoba melarikan diri ke pantai, dan pantai Zushi di Kanagawa menjadi salah satu tempat pelarian musim panas paling populer. Sayangnya pantai ini melarang pemutaran musik keras, tattoo dan barbecue, tapi diantara semua larangan tadi terselip sebuah event yang harus dihadiri terutama pada saat Golden Week, The Zushi Beach Film Festival (ZBFF).

ZBFF adalah sebuah festival film tahunan yang diorganisir oleh Cinema Caravan, sebuah kolektif seniman Jepang yang mempergunakan video/film sebagai media. Dengan konsep Play With The Earth, kolektif ini sering mengadakan pemutaran film secara interaktif melalui format bioskop keliling dengan tempat yang dekat dengan alam semisal di atas bukit atau tepi pantai yang sepi.

ZBFF tahun ini adalah yang ke tujuh kalinya digelar, dan kali ini akan berlangsung mulai 28 April sampai 8 Mei 2016. ZBFF sendiri secara ironis menawarkan semua hal yang dilarang di pantai tersebut mulai dari pemutaran bermacam jenis film, pertunjukkan musik keras, tattoo serta pesta makanan tradisional setiap harinya. Selain itu, festival ini juga menyajikan pergelaran seni, budaya serta olahraga ekstrem dari berbagai negara yang ditunjuk sebagai tema harian, termasuk Indonesian Day. Untuk informasi lain mengenai ZBFF, silahkan cek: http://www.zushifilm.com.

Pada ZBFF 2016 kali ini, Cinema Caravan mengundang lima seniman Indonesia untuk mengkurasi Indonesian Day yang tidak hanya menyajikan unsur film dan seni rupa tetapi juga musik, makanan serta budaya lokal lainnya. Indonesian Day di ZBFF 2016 yang diselenggarakan pada 7 Mei 2016 nanti akan menggelar permainan interaktif lomba ala tujuh belasan semisal Lomba Makan Krupuk, Balap Karung, Voli, Lari Bakiak serta memasak masakan Indonesia. Selain itu ada screening film berjudul ‘Siti” yang disutradarai oleh Eddie Cahyono, produksi FourColours Films. Sebagai perwakilan Ace House Collective, Uji “Hahan” Handoko berperan sebagai penata artistik di Indonesian Day selain memamerkan karya-karya dari anggota Ace House Collective. Sementara itu, dua seniman lainnya yaitu Aga dan Gotha Antasena dari Whaton Studio akan membangun sebuah karya instalasi sebagai representasi dari gerobak kaki lima yang khas kita temui sehari-hari di Indonesia.

Pada sesi musik, Indonesian Day akan menampilkan group Electronic yang sempat merilis single kolaborasi bersama Masia One melalui DoggyHouse Records, DubYouth Soundsystem. Group yang tahun lalu merayakan ulang tahun-nya ke sepuluh ini dikomandani oleh PoppaTee (Heru Wahyono “Shaggydog“) sebagai produser dan arranger serta dibantu Metzdub (Andy Zulfan) pada mixing console.

Sumber: DoggyHouse Records

Senyawa: Dari Yogyakarta Menuju Amerika

Screen Shot 2016-01-30 at 4.38.39 pm

Senyawa, Cafe Oto, London – England

Akhirnya setelah melalui beberapa waktu, pada minggu ini saya berkesempatan untuk melakukan wawancara jarak jauh dengan Senyawa, duo eksperimentalis yang berasal dari Yogyakarta. Wawancara ini untuk menindaklanjuti pemberitaan dari situs billboard.com pada Februari 2016 lalu, bahwa Senyawa akan tampil di Eaux Claires Festival yang diselenggarakan di 443 Crescent Avenue, Eau Claire, Wisconsin, 12-13 Agustus 2016 nanti.

Eaux Claires Festival adalah festival musik yang dikurasi oleh Justin Vernon (Bon Iver) dan Aaron Dessner (The National). Dalam event ini akan tampil pula Bon Iver, James Blake, Jenny Lewis, Erykah Badu, dll. Berikut beberapa tanya jawab saya secara ringan dengan Senyawa (Rully Shabara dan Wukir Suryadi), beserta manajernya Kristi Maya Dewi Monfries. Simak pula berita terkini: ‘penolakan’ Senyawa atas tawaran kontrak dari label rekaman Sub Pop (label Nirvana, Soundgarden, dll.)!!

Saya mendengar kabar dari salah satu artikel di Billboard pada Februari 2016 lalu, bahwa Senyawa diundang oleh Justin Vernon (Bon Iver) untuk tampil di festival musik yang dikurasi olehnya. Bisa diceritakan secara rinci bagaimana awal mulanya dan sepertinya undangan ini sangat personal?

Kristi Monfries: Awalnya dimulai saat Justin Vernon (Bon Iver) sedang berada di kota Paris dalam rangkaian tour Bon Iver. Pada satu malam saat Justin Vernon menyaksikan acara di satu televisi yang menayangkan film dokumenter pendek Senyawa, Calling the New Gods, yang disutradarai oleh Vincent Moon, dari situ Justin Vernon langsung jatuh hati dengan musik Senyawa. Dari satu moment yang serba kebetulan ini, Justin langsung memutuskan untuk mengundang Senyawa tampil di festival musik yang dikurasinya, Eaux Claires Festival, dan dalam beberapa bulan terakhir antara Justin Vernon dan Senyawa telah melakukan pembicaraan dan menyelesaikan beberapa hal. Dengan sepenuh hati Justin Vernon juga memberikan dukungan kepada Senyawa, mulai dari bantuan untuk mengurus pengajuan visa di kedutaan Amerika Serikat.

Ada kabar juga selain tampil di Eaux Claires Festival ini, Senyawa juga bakal menggelar tour di beberapa kota di Amerika Serikat? Rencana tampil di kota mana saja?

Kristi Monfries: Eaux Claires Festival akan menjadi agenda penting dalam rangkaian tour Amerika Serikat nantinya. Saat ini beberapa jadwal yang telah memberikan konfirmasi untuk penampilan Senyawa adalah di kota-kota berikut: Olympia, Seattle, San Francisco dan New York.

Bisa dikisahkan mengapa sampai ada ‘immigration lawyer’ yang didatangkan secara khusus untuk mengurus keberangkatan kalian ke Eaux Claires Festival nanti?

Kristi Monfries: Sehubungan dengan proses pengajuan visa di kedutaan Amerika, tentunya bukan hal yang mudah untuk mengikuti semua alur prosesnya, apalagi ini juga berkaitan dengan instrumen-instrumen musik yang akan kami bawa, yang nampak terlihat berbeda dengan instrumen biasanya. Dari pihak Senyawa & management sendiri mencoba mengantisipasi dan tidak mau mengambil resiko, misalnya ketika sudah tiba di Amerika Serikat harus ribet dan repot berurusan dengan bea cukai serta imigrasi disana. Justin Vernon sebagai salah satu kurator Eaux Claires Festival sangat memahami hal ini, dan bahkan dia membantu mendatangkan ‘immigration lawyer’ untuk membantu menyelesaikan semua proses dokumen di kedutaan. Semuanya bisa dibereskan.

Bagaimana kabar Rully Shabara dan Wukir Suryadi akhir-akhir ini? Ada project apa mereka saat ini?

Rully Shabara: Selain sibuk dengan Senyawa, saya juga menjalankan kelas workshop paduan suara eksperimental “Raung Jagat”, yang hingga kini sudah mencapai 7 kelas di Indonesia dan beberapa negara lain. Saya juga masih terus menjalankan Zoo (band), meskipun fokusnya kini hanya lebih ke penggarapan album.

Wukir Suryadi: Disela-sela dengan Senyawa, saya sedang berusaha merealisasikan gagasan membuat instalasi hidup. Instalasi yang fungsional, secara fungsi juga sekaligus sebagai statement menyikapi perkembangan kota Yogyakarta pada khususnya. Sudah berjalan setahun dan karya tersebut masih berkisar 60 persen penggarapannya. Berkaitan dengan instrumen, sekarang sedang dalam pengerjaan arrow music instruments  yang sudah hampir 2 tahun ini berjalan. Juga saat ini sedang membentuk gagasan album “Terbang” yang secara instrumen musikalnya memanfaatkan terbang/rebana sebagai obyek eksplorasi. Dan juga sedang dalam proses merekonstruksi ulang karya instrumen Tenun, Sisir & Topi Toraja. Saat ini instrumen tersebut saya titipkan di Weltkulturen Museum, Frankfurt.

Kalian sudah berkeliling ke Asia, Australia, dan Eropa, dan bulan Agustus nanti kalian akan ‘menjajah’ Amerika. Bagaimana menurut kalian apresiasi antara pecinta musik di luar dan di dalam negeri?

Wukir Suryadi: Sejauh ini yang saya rasakan pada saat main di luar negeri, di manapun, mereka (audience) selalu berharap bahwa kami akan kembali bermain disana. Dan banyak sekali pendapat jujur dari mereka setelah menonton Senyawa live, mereka memberikan komentar: “ini konser yang memberikan energi dan wacana baru bagi kami”. Sementara disini, kami masih selalu mencoba mencari ruang-ruang untuk menyampaikan musik kami. Memang benar tidak ada promotor musik yang berani gambling mensosialisasikan musik-musik seperti Senyawa, pun diluar itu. Mungkin juga karena mindset para promotor musik tersebut. Mengenai musik Senyawa yang mungkin sedikit berbeda dibandingkan jenis musik lainnya.

Rully Shabara: Sejauh ini memang apresiasi penonton di luar lebih besar, baik minat maupun pemahaman mereka. Tapi penonton di Indonesia juga semakin menunjukkan ketertarikan dan apresiasi yang jauh lebih besar belakangan ini. Jujur, memang musik Senyawa tidak ditargetkan untuk mudah diterima siapa saja. Dan menurut saya, sekarang masyarakat Indonesia sebenarnya sudah siap dengan jenis musik apa pun. Tinggal media dan promotor lokal saja yang perlu lebih membantu mereka untuk mengakses dan menemukan berbagai musik yang tersedia.

Saya mendapat kabar santer seputar ‘penolakan’ dari Senyawa atas tawaran kontrak dari label rekaman Sub Pop (label Nirvana, Soundgarden, Mudhoney, The Postal Service, dll)? Bisa diberikan klarifikasinya?

Kristi Monfries: Ya sebenarnya kami sungguh merasa sangat terhormat ketika “diminta” oleh pihak Sub Pop, perusahaan rekaman yang cukup ternama, tapi nampaknya saat itu (dan sekarang) bukan waktu yang tepat bagi Senyawa untuk memulainya. Kondisi Senyawa saat sekarang adalah merupakan kondisi yang paling prima. Jadi biarkan kami berjalan seperti ini. Mungkin saja di saat yang akan datang ada kesempatan untuk bekerjasama…

Bagaimana menurut kalian ekosistem musik di Indonesia di era kemajuan teknologi dan digital seperti saat ini?

Rully Shabara: Bergerak ke arah yang lebih baik, bagi musisi maupun penikmat. Sekarang dengan internet, siapa pun bisa menyebarkan karya atau mendengarkan karya tanpa batas. Strategi pemasaran juga semakin canggih karena memiliki banyak opsi juga murah, tak melulu harus mengandalkan toko musik atau video klip. Ini juga ‘mematikan’ istilah underground karena tak ada lagi yang di bawah tanah, semuanya muncul ke permukaan, kecuali scene yang memang memilih untuk tetap mengakar pada tradisinya, seperti punk, hardcore, hiphop, atau sebagian scene metal. Sisanya, semuanya langsung bisa diakses publik. Yang merasa mampu akan berjuang sendiri dan jika bagus pasti akan bertahan serta menemukan atau membentuk pasarnya sendiri, dan jika kurang mampu pasti akan mengeluh soal pembajakan dan tetap berjuang dengan cara konvensional seperti beriklan di TV untuk gencar menyuap audience yang pasif.

Mungkin saja saat Senyawa berkeliling Amerika nanti akan mendapatkan tawaran kontrak rekaman, mungkin oleh label lain dengan penawaran yang lebih bagus. Bagaimana reaksi kalian?

Kristi Monfries: Kami tidak mau berandai-andai akan kontrak rekaman tersebut. Pastinya semua tergantung dari keadaan dan kondisinya. Dan pastinya, pihak yang akan bekerjasama dengan Senyawa adalah pihak yang tepat. Pihak yang bisa memahami dan mendukung sepenuhnya keberadaan Senyawa dengan lintasan musiknya.

Hingga saat ini kalian masih banyak menghabiskan waktu dan berinteraksi di Yogyakarta, kan? Bagaimana menurut kalian komunitas musik di Yogyakarta yang ada sekarang dibandingkan beberapa tahun lalu?

Rully Shabara: Menurut saya, Yogyakarta sangat baik bagi scene musik karena setiap komunitas begitu mudah terhubung satu sama lain. Sejak dulu sih… Asyiknya, di Yogyakarta acara musik semakin ramai, segala jenis pula. Bukan cuma konser, tapi juga aspek lain seperti acara diskusi, workshop, festival, dan macam-macam. Semuanya pun punya massa masing-masing dan terus bertambah. Energinya semakin baik.

Last, ada rencana project ataupun merilis materi baru hingga akhir tahun 2016 ini?

Rully Shabara: Tahun ini Senyawa mencoba merambah wilayah baru yang lebih luas, yakni teater. Kami tahun ini terlibat dalam tiga proyek teater. Di Yogyakarta, Australia, dan Jepang. Akan ada juga setidaknya dua album yang kemungkinan dirilis tahun ini, materinya sudah direkam dari tahun lalu, dengan dua label yang berbeda. (*)

Kredit Foto: Senyawa

Rest In Prince

IMG_2115

Rest In Prince

Kabar duka datang lagi dari dunia musik. Kali ini musisi legendaris Prince yang populer dengan lagu Purple Rain. Prince yang berusia 57 tahun ditemukan dalam keadaan tidak sadar di dalam lift, di rumahnya Paisley Park Studios di Chanhassen, Minnesota.

Pihak berwajib telah memastikan bahwa pria tersebut adalah Prince Rogers Nelson, yang lebih dikenal dengan Prince. Mengenai penyebab kematian Prince akan dilakukan penyelidikan lebih lanjut.

Dalam tulisan yang berbeda nanti, saya akan sedikit mengulas sepak terjang Prince yang kerap melakukan ‘perlawanan’ dengan industri musik yang ada selama ini. Misalnya dengan melakukan kontrol atas lagu-lagu yang dia ciptakan. Kemudian tentang bagaimana sikap Prince dalam mengantisipasi kemajuan teknologi, internet.

Selamat jalan, Prince…

Could you be
The most beautiful girl in the world
It’s plain to see
You’re the reason that God made a girl
(Alb. The Gold Experience, 1995)

Sumber: CNN

Spotify Indonesia

15966418065_ca394409ba_b

Selamat datang, Spotify Indonesia

Akhirnya yang ditunggu-tunggu bakal tiba… Begitulah kiranya ungkapan yang paling tepat untuk menyambut kedatangan layanan musik streaming yang berasal dari Swedia, Spotify, yang bakal bisa diakses di Indonesia mulai tanggal 30 Maret 2016.

Pada hari Minggu sore kemarin, kabar tersebut diberitakan melalui akun Twitter @SpotifyID, akun Twitter resmi Spotify Indonesia, akun yang sebenarnya telah dibuat sejak Agustus 2011 jauh sebelum Spotify masuk ke wilayah Asia: Malaysia, Singapura, Hongkong pada Juni 2013, selanjutnya menyusul Taiwan dan Filipina pada April 2014. Demikian juga hal ini diinformasikan melalui akun Facebook Spotify.

Saya sendiri sudah menggunakan layanan musik ini sejak hampir tiga tahun lalu. Awal pertama melakukan akses Spotify, karena belum bisa diakses di Indonesia, dengan menggunakan bantuan VPN baik di desktop ataupun mobile, kemudian baru pada Mei 2014 mulai mencoba sebagai premium subscriber alias pelanggan berbayar US $10 tiap bulannya, dimana saya membeli voucher premium yang bisa di-redeem, sampai dengan sekarang.

Tidak dipungkiri saya langsung jatuh cinta pada akses pertama dengan Spotify. Jauh sekali perbedaan yang saya rasakan saat mengakses platform yang hampir sama seperti: Deezer, Beats Music, bahkan dibandingkan dengan yang terkini Apple Music, sementara Tidal? (hi-fi sound quality? I don’t even care!)Spotify is soundtracking my life! Itu ekspresi yang paling tepat dan agresif terkait layanan musik ini. Mulai dari kita bangun tidur, beraktifitas di kantor, menjelang sore, saat di perjalanan balik ke rumah, hingga saat kita mau beranjak ke tempat tidur, Spotify memberikan pilihan playlist beragam yang bisa disesuaikan dengan mood kita saat itu. Mau berapa puluh juta lagu semuanya ada dan bisa dicari di layanan musik ini. Bahkan kadang saya merasakan lost in the digital era, karena sampai bingung mau mendengarkan lagu apa lagi 😊. Keunggulan bagi pengguna premium salah satunya adalah layanan playlist bisa di-unduh untuk didengarkan secara offline.

Berbagai pengalaman dengan layanan musik yang sudah hadir di lebih 58 negara ini, sering saya share di akun Twitter. Terakhir mengenai fitur Spotify Running, rekomendasi lagu secara medley sesuai dengan tempo saat berlari, yang diakses menggunakan smartphone. Jadi misalnya saat saya berolahraga pagi lari-lari kecil, sambil buka aplikasi Spotify di smartphone, si aplikasi mendeteksi berapa tempo kecepatan lari kita. Nah dari situ, kemudian disesuaikan sajian playlist dari Spotify. Untuk experience & interface saya sudah coba Spotify di semua format mulai iPhone, Android, OS X, hingga Windows PC, tidak ada yang mengecewakan.

Saya berharap semoga layanan ini tidak terkendala dengan syarat-syarat PSE (Penyelenggara Sistem Elektronik) asing yang buka di Indonesia, seperti halnya yang terjadi pada Netflix, yang digaungkan pihak Kemkominfo beberapa waktu lalu. Juga seperti dikatakan Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, yang menyatakan sikap tegas kepada semua penyedia layanan over the top (OTT) yang beroperasi di Indonesia. Semua harus berbentuk usaha tetap (BUT) jika ingin melanjutkan layanannya.

Oiya karena saking ‘cintanya’, terhitung sudah tiga kali saya coba apply pekerjaan di Spotify via Spotify Singapore. Mulai dari Account Manager – Label Relations (Jan. 2014), Music Editor Indonesia (Des. 2015), kemudian Account Manager – Label Relations Southeast Asia (Mar. 2016). Belum ada yang tembus 😄.

Goodluck, Spotify Indonesia!

Kredit foto: PhotoPin

Bisnis Penerbit Musik

Refe_56a4d763571cd_HX6YSHGXRB

Music + Publishing

Sudah ada rencana beberapa waktu lalu untuk menulis soal music publishing alias penerbit musik. Hingga akhirnya pada tanggal 15 Maret kemarin membaca tautan artikel dari PR Newswire dan majalah Forbes yang memberitakan Michael Jackson (almarhum) melalui The Estate of Michael Jackson (The Estate) dan Sony Corporation telah bersepakat untuk menjual separuh (50%) hak kepemilikan Michael Jackson di Sony/ATV Music Publishing untuk diberikan secara penuh kepada Sony Corporation. Perjanjian ini senilai 750 juta dollar Amerika yang pastinya akan diterima oleh ahli waris Michael Jackson. Berapa rupiahkah nilai tersebut? Mungkin sekitar 9.825.000.000.000 rupiah atau pastinya bisa dihitung disini.

Saya pernah membaca kisah awal mengenai Michael Jackson yang pada waktu itu mulai naik daun ‘booming’ saat album Thriller mulai menghangat, belum paham mengenai apapun soal konsep music publishing, hingga akhirnya Michael bertemu Paul McCartney pada tahun 1982 di London saat keduanya melakukan rekaman untuk duet lagu Say, Say, Say. Paul menunjukkan kepada Michael satu buku yang berisi catatan mengenai hak/kuasa atas lagu-lagu yang dia beli dalam dekade sebelumnya, dan dia juga menunjukkan serta meyakinkan Michael hasil perolehan royaltinya hanya dalam kurun waktu setahun mampu meraup hampir 40 juta dollar (saat itu).

Begitu Paul selesai berbicara menjelaskan mengenai music publishing ini, Michael pun memandang ke arah Paul dan mengungkapkan: “Some day I’m gonna own your songs”. Paul pun tertawa dan berkomentar: “Great, good joke!”. Dan bagaimana juga kisah Michael Jackson yang mampu mengakuisisi ATV, memiliki hak penuh atas katalog lagu-lagu The Beatles dan kemudian akhirnya berkongsi dengan Sony membentuk Sony/ATV? Laporan lengkapnya ditulis oleh situs Celebrity Net Worth.

Oya, berkisah soal Sony/ATV yang memiliki kontrol atas lagu-lagu terbaik yang pernah ditulis, seperti: “New York, New York”, “Hallelujah”, “All You Need Is Love”, “You’ve Got a Friend”, “Moon River”, “Jailhouse Rock”, “The Mission Impossible Theme”, “Ain’t No Mountain High Enough”, “Over the Rainbow”, “Stand By Me”, “I Heard It Through The Grapevine” dan “Singin’ in the Rain.”

Sebagai tambahan, Sony/ATV juga mewakili kuasa hak cipta atas artis-artis legendaris  seperti: The Beatles, Leonard Cohen, Bob Dylan, Marvin Gaye, Michael Jackson, Carole King, Kraftwerk, Joni Mitchell, Willie Nelson, Roy Orbison, Queen, The Rolling Stones, Richie Sambora, Sting, The Supremes, Wyclef Jean, Hank Williams dan Stevie Wonder. Termasuk mereka juga yang sering merajai tangga lagu dunia, penulis lagu dan produser: Akon, Avicii, Calvin Harris, Jessie J, Alicia Keys, Lady Gaga, P!nk, RedOne, Shakira, Ed Sheeran, Sam Smith, Stargate, Taylor Swift, Kanye West dan Pharrell Williams.

Di tulisan ini saya tidak akan menjelaskan detail mengenai apakah itu sebenarnya penerbit musik atau publisher. Bagaimana juga soal perjalanan ataupun kisah sepak terjang para penerbit musik di Indonesia dari dulu hingga sekarang, dan mulai kapan istilah music publishing ini dikenal di Indonesia? Silahkan cari sendiri via Google atau Bing.

Bisnis yang masih ‘awam’ ini, bahkan bagi kalangan dan pelaku musik-nya sendiri, merupakan bisnis yang sangat menjanjikan dan investasi besar/jangka panjang (IMHO). Mungkin ke depan saya juga ada niatan untuk membangun satu bentuk usaha music publishing ini. Dengan gaya serta konsep yang lebih simpel dan sistem administrasi yang transparan, untuk menjembatani para pencipta lagu dan mereka yang memiliki keterlibatan langsung dengan bidang usaha ini.

Keinginan dan cita-citanya sih ingin mengumpulkan semua katalog dari berbagai artis ataupun musisi independen (pop, rock, metal, dangdut, keroncong, lagu daerah, dll.) mulai dari era tahun 1990’an sampai dengan era saat ini. Tidak muluk-muluk untuk membangun dan berkeinginan untuk menjadi besar. Namun dengan rencana konsep small business ini mudah-mudahan mampu memberikan solusi, alternatif pilihan dan bisa menyesuaikan dengan era kemajuan teknologi sekarang. Namun masih banyak hal yang masih harus saya pelajari dan persiapkan. Dan hal ini pastinya banyak berkaitan dengan aspek legal/hukum. Apakah ada entertainment lawyer maupun advokat/konsultan HKI yang mau berpartner dengan saya? 😉

Kredit Foto: Refe

Referensi: PR Newswire, Forbes